Tradisi Merpati Putih 2018
Jakarta,Tradisi Merpati Putih merupakan acara rutin tahunan yang diadakan oleh pergurugan pencak silat beladiri tangan kosong Merpati Putih di Parangkusumo Bantul Jogjakarta(6-7/10/18), dimana kegiatan tersebut dihadiri oleh seluruh kolat (kelompok latihan) yang tersebar diseluruh Indonesia dan luar negeri seperti, Amerika, Belanda, Jepang, Thailand, dan masih banyak lagi. Tradisi merupakan acara yang bertujuan untuk mempererat tali silatuhrahmi dengan kolat yang jauh, tradisi diadakan selama dua hari satu malam suntuk. Tahun ini tradisi 2018 mengusung tema Merpati Putih Bangkit, kalau bukan kita siapa lagi?, kalau bukan sekarang kapan lagi?. Tema tersebut menjelaskan bahwa kami harus bangkit menjadi lebih baik lagi, harus terus menjaga dan mencintai budaya asli Indonesia, serta bangkit untuk terus melestarikan apa yang dititipkan oleh para leluhur. Tidak hanya tradisi saja, setiap tahun juga selalu diadakan UKTNAS (Ujian Kenaikan Tingkat Nasional) untuk memperoleh tingkatan yang lebih tinggi.
Acara tradisi
ini diawali dengan upacara pembukaan perguruan yang diikuti oleh seluruh peserta
tradisi 2018, seluruh panitia, dan dewan guru, serta peserta UKTNAS. Kemudian disambung
dengan acara selanjutnya yaitu:
1. Nyekar, nyekar
adalah ziarah kemakam sang guru, guru besar, para dewan guru yag telah
meninggal yang berada di Ngulakan.
2.Tabur Bunga
disungai Opak, tabur bunga merupakan kegiatan yang selalu dilakukan setelah
nyekar, bukan karena percaya selain Tuhan Yang Maha Esa, nyekar dilakukan untuk menghormati para
peserta UKTNAS dan Peserta Tradisi yang gugur karena terseret arus sungai yang
deras saat menyeberang puluhan tahun lalu.
3.Lintas gunung
botak, setelah tabur bunga dikali opak, para peserta tradisi dan UKTNAS akan
melintasi gunung botak yang tak jauh dari sungai opak, para peserta bebarengan
melintasi gunung botak menciptakan suasana yang menyenangkan karena dapat
bertemu dan berkenalan dengan sesama pesrta tradisi dari lain daerah.
4.Upacara resmi
pembukaan tradisi, upacara ini dilakukan sama seperti upacara formal pada
umumnya, namun tidak ada pengibaran bendera Merah Putih oleh Paskibraka.
5.Jamasan,
jamasan merupakan rangkaian acara yang dilakukan setelah upacara resmi, jamasan
itu seperti mencuci tangan, muka dan kepala dengan air yang diambil dari tuju
sumber yang berbeda. Diletakan dalam sebuah gentong tanah yang tanahnya dibawa
dari berbagai macam daerah lalu disatuka menjadi gentong, filosofi ini
bermaksud untuk menyatukan semua hal yang berbeda menjadi satu kesatuan.
6.Menghantar Matahari,
menghantar matahari terbenam digumuk pasir merupakan kegiatan yang paling
menyenangkan, mengapa karena kita bisa melihat matahari terbenam yang indah,
menghantar matahari maksudnya kami duduk bersila menghadap matahari dan
melakukan pernapasan garuda lalu disambung dengan napas segitiga, hingga
matahari turun diufuk barat.
7.Semakin malam
kegiatan semakin seru, para dewan guru akan memberikan materi untuk para
peserta berupa edukasi tentang cara menggunakan tenaga dalam diri sendiri,
hiburan, dll.
8.Renungan malam,
dikegiatan ini biasanya para peserta akan melakukan napas garuda dan segitiga
dipinggir pantai parangkusumo untuk menyatu dengan alam, mensyukuri apa yang
diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
9.Renungan malam
selanjutnya para peserta akan melakukan meditasi di makam leluhur dengan maksud
untuk berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, bahwa yang menguasai segala isi
didunia ini adalah milik-Nya, bahwa tiada yang lebih sempurna, dan lebih besar
dari-Nya.
10.Menjelang pagi
hari, kami para peserta diajak kembali menuju gumuk pasir untuk menyambut
matahari terbit diufuk Timur, dengan melakukan napas garuda dan disambung
dengan napas segitiga.
11.Minum Air tujuh
Sumber, air Tujuh sumber ini diambil dari tujuh mata air yang berbeda diletakan
dalam sebuah gentong tanah yang tanahnya dibawa dari berbagai macam daerah lalu
disatuka menjadi gentong, filosofi ini bermaksud untuk menyatukan semua hal
yang berbeda menjadi satu kesatuan. Gelasnya pun terbuat dari tanah liat.
12. Peragaan,
peragaan disini maksudnya adalah, setiap tahun akan ditunjuk perwakilan dari
masing masing daerah untuk melakukan peragaan gerakan silat, sebagai hiburan.
13. Yang terakhir
upacara penutupan perguruan dan resmi, disinilah semua acara akan berakhir.
Semua senyum,canda,tawa,dan
haru pun bersatu entah mengapa, padahal ini acara rutin tahunan yang pasti akan
selalu ada setiap tahun, suka duka bagi para peserta pun tertumpahkan pada saat
matahari terbenam.



Komentar
Posting Komentar